Saya pernah mengira masalahnya adalah saya belum menemukan model yang cukup pintar. Ternyata bukan itu.
Saya membayar orang untuk membuat satu website. Janji satu minggu berubah menjadi dua minggu dan tujuh kali revisi. Lalu saya pindah ke AI chat. Jawabannya cepat, tetapi pekerjaan tetap berada di pundak saya.
Di titik itu, pertanyaannya berubah: bukan “AI mana yang paling pandai bicara?”, melainkan “sistem kerja seperti apa yang membuat pekerjaan benar-benar bergerak?”
COBLAI lahir dari pertanyaan itu. Bukan sebagai chatbot lain, tetapi sebagai ruang kerja yang menghubungkan konteks, eksekusi, dan memori.
“Kamu tidak membutuhkan AI yang lebih pandai menjelaskan pekerjaan. Kamu membutuhkan sistem yang membantu pekerjaan itu selesai.”